RENOVASI ASRAMA STA JEMBER

Desain asrama baru STA Jember

TIM FUTSAL STA JEMBER

Salah satu tim futsal STA-J setelah melakukan pertandingan persahabatan

OSPEK MAHASISWA STA JEMBER

Ospek mahasiswa program studi Sarjana Teologi

REAKREDITASI PRODI TEOLOGI

Asesor dan Dosen usai asesmen lapangan 1-3 April 2019

PADUAN SUARA MAHASISWA STA JEMBER

Penampilan pada acara wisuda

RENOVASI KAMPUS STA JEMBER


Sampai saat ini STA-J telah meluluskan dan mengutus lebih dari 2.000 hamba Tuhan yang berkecimpung dalam berbagai bidang pelayanan dan tersebar di berbagai daerah di dalam dan bahkan di luar negeri. Dengan makin tingginya kesadaran akan pentingnya pendidikan sarjana teologi maka semakin tahun mahasiswa STA-J semakin bertambah. Karena itu agar dapat menampung semua mahasiswa dan akitivitas belajar dan mengajar yang berkualitas, maka gedung STA-J perlu direnovasi. Doakan proses renovasi supaya proses dan kegiatan belajar mengajar semakin bermutu.




Desain kompleks bangunan STA-J yang baru setelah direnovasi

STA-J (Sekolah Tinggi Alkitab Jember), yang diselenggarakan oleh Yayasan Ekklesia Jember, pada awalnya dikenal dengan nama Jember Bible College (JBC) dan telah berdiri sejak tahun 1985. Dari awal berdirinya institusi pendidikan ini sampai sekarang telah mengalami banyak perkembangan termasuk perubahan pada bangunan kampus dan asrama mahasiswa.

Bangunan awal kampus STAJ tahun 1985 yang didirikan oleh Dr. E.N. Soriton alm.

Pengelolaan STAJ dilindungi oleh Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (MP GPdI) serta Majelis Daerah Jawa Timur (MD GPdI Jatim) selaku mitra kerjanya. Sejak awal berdirinya, STA-J terus-menerus membangun kepercayaan dan bekerjasama dengan berbagai lembaga dan denominasi gereja yang mempunyai visi dan misi yang sama.



Gedung Kampus STAJ sekarang


A LEADER WHO HAS CHRIST INTEGRITY. Oleh: Dr. Doni Heryanto


Menuju Gereja yang Sehat, Maju dan Berkualitas ke Arah Kepenuhan Kristus
EFESUS 4:1-16



Makalah ini adalah bahan seminar yang berusaha menolong para pemimpin gereja untuk dapat melihat betapa pentingnya memiliki integritas sebagaimana diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk dapat membawa gereja menjadi sehat, maju, dan berkualitas ke arah kepenuhan Kristus (Efesus 4:1-16). Pemilihan ayat sebagai dasar pembahasan tema seminar sangatlah tepat, dan materi ini menguraikan beberapa point penting berdasarkan ayat-ayat tersebut sebagai dasar diskusi bersama.


GEREJA SEHAT, MAJU, DAN BERKUALITAS

A.        Gereja yang sehat, maju dan berkualitas adalah gereja yang hidup bersama dalam suatu kesatuan, yaitu kesatuan IMAN dan PENGETAHUAN YANG BENAR TENTANG ANAK ALLAH (ay. 13). Hal ini berbicara perihal pengajaran/doktrin yang benar/Alkitabiah. Gereja harus satu dalam iman berdasarkan pengajaran/doktrin yang Alkitabiah, diantaranya adalah pengenalan akan Kristus (KRISTOLOGI).

i)     Dasar kesatuan gereja ada pada hakekat gereja itu sendiri, yaitu:
(1)      Satu Tubuh
Satu tubuh menunjuk kepada tubuh Kristus, yaitu gereja (Efesus 1:22-23; Efesus 5:23). Dalam hal ini, Paulus berbicara mengenai gereja yang Am (universal):
·      Tubuh Kristus adalah semua orang yang telah diselamatkan di seluruh dunia ini.
·      Kristus adalah kepala dan Juruselamat tubuh-Nya (Efesus 5:23).
Meskipun ada banyak gereja lokal, tetapi hanya ada satu gereja  universal dan Kristus adalah kepalanya.
(2)      Satu Roh, yaitu Roh Kudus, yang dijelaskan: sebagai Roh yang telah dijanjikan (Efesus 1:13); sebagai jaminan bagian kita (Efesus 1:14); yang olehnya semua orang memiliki jalan masuk kepada Bapa (Efesus 2:18); yang diam dalam diri orang percaya (2:21-22); dimana melaluinya misteri Kristus dibukakan (Efesus 3:5); yang meneguhkan manusia batiniah kita (Efesus 3:16); yang kesatuannya diikat oleh damai sejahtera (Efesus 4:3).
(3)      Satu Pengharapan: bagi Paulus, ini adalah pengharapan akan kebangkitan dari antara orang mati (KPR 23:6; 24:15; Roma 8:23-24)/keselamatan jiwa kita.
(4)      Satu Tuhan, yaitu Tuhan Yesus Kristus (1 Korintus 8:5-6).
(5)      Satu Iman, yang satu kali disampaikan pada orang-orang kudus (Yudas 3)
(6)      Satu Baptisan, sebagaimana diperintahkan Tuhan Yesus (Matius 28:18-20; Markus 16:15-16).
(7)      Satu Allah dan Bapa.

ii)   Sikap hidup untuk dapat hidup dalam satu kesatuan:
(1)      Rendah hati.
(2)      Lemah lembut.
(3)      Sabar.
(4)      Saling membantu dalam kasih.

B.        Gereja yang sehat, maju dan berkualitas adalah gereja yang DEWASA PENUH (ay 13). Hal ini berbicara perihal kehidupan yang berpadanan dengan “panggilan” Allah (ay. 1), hidup dalam kesesuaian dengan Firman Allah, yaitu pengajaran/doktrin yang Alkitabiah. Gereja yang dewasa penuh tidak lagi seperti anak-anak yang tidak teguh dalam pendirian. Melainkan berpegang kepada kebenaran di dalam kasih dalam pertumbuhan ke arah Kristus. Gereja harus hidup selaras dengan Firman Allah dan berpegang teguh pada pengajaran/doktrin Alkitabiah dan dalam kasih bertumbuh ke arah Kristus.

C.        Gereja yang sehat, maju dan berkualitas adalah gereja yang memiliki keserupaan dengan Kristus (ay. 13). Gereja harus meneladani Kristus dalam segala hal.


KARUNIA ALLAH UNTUK MEMBANGUN GEREJA YANG SEHAT, MAJU, BERKUALITAS

A.        Karunia-karunia rohani dalam setiap anggota tubuh Kristus (ay. 7; Roma 12:6-8; 1 Korintus 14). Gereja harus menggali potensi-potensi yang berasal dari karunia-karunia rohani yang ada dalam seluruh angotanya.
B.        Kelima jawatan fungsional dalam gereja: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar (guru) (ay 11). Pelayan-pelayan Tuhan bertanggungjawab penuh kepada Tuhan atas tercapainya gereja yang sehat, maju dan berkualitas. Itu sebabnya, gereja juga harus memperlengkapi para pelayannya dengan keterampilan yang dibutuhan dalam pelayanan, seperti berkhotbah, konseling, visitasi, dll.


TUGAS PELAYANAN HAMBA-HAMBA TUHAN (ay. 12-16):

A.        Memperlengkapi anggota tubuh Kristus untuk pelayanan: memperlengkapi warga jemaat untuk tugas pelayanan, sesuai dengan karunia yang mereka miliki.
B.        Membangun anggota tubuh Kristus, sehingga mereka:
i)          Menjadi dewasa (ay.13): mengalami kesatuan iman dan pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus; memiliki keserupaan dengan Kristus.
ii)        Tidak seperti anak-anak yang mudah diombang-ambingkan (ay. 14).
iii)      Bertumbuh ke arah Kristus (ay. 15-16).

ASESMEN LAPANGAN REAKREDITASI PRODI TEOLOGI


Dua asesor yang ditugaskan BAN-PT telah melakukan visitasi di STA Jember dalam rangka asesmen lapangan, pada tanggal 1 s.d. 3 April 2019. Asesmen lapangan ini dilakukan berkaitan dengan reakreditasi Prodi Teologi yang masa berlaku akreditasinya sudah habis.

Foto bersama Asesor dan Dosen usai cek fisik
Kedua asesor duduk diapit Ketua STAJ (kiri) dan Kaprodi Teologi (kanan)
Kedua asesor yang ditugaskan ialah Dr. Maidiantius Tanyid, dari STAKN Toraja, serta Dr. Daniel Sutoyo, dari STT Intheos Surakarta. Mereka melakukan cek fisik berpatokan pada dokumen Borang Akreditasi Prodi yang telah diajukan sebelumnya.





Suasana cek bukti fisik oleh asesor


PELAYAN KRISTUS YANG TERDIDIK DALAM IMAN DAN AJARAN SEHAT. Oleh: Dr. Bambang Sriyanto



SIAPA Pelayan Kristus?
Siapa pelayan Kristus itu? Pelayan Kristus dikenal dari ciri-cirinya atau karakteristiknya. Lalu bagaimana karakteristik pelayan Kristus? Karakter pelayan Kristus yang dikehendaki Bapa tentulah seperti karakter Tuhan Yesus Sang Pemimpin Agung. Oleh sebab itu setiap pelayan Kristus secara umum harus terus bertumbuh dalam proses pendewasaan atau penyempurnaan seperti Kristus, menempatkan Alkitab sebagai pedoman hidup, menjadikan  Alkitab sebagai pijakan segala pola tindak, pola pikir dan keputusan-keputusannya, theosentris (berfokus pada Allah), serta misinya adalah memberitakan Yesus Kristus sebagai sentral keselamatan dan berkat dunia.

Pelayan Kristus yang Terdidik dalam Iman
Terdidik dalam iman artinya tidak hidup dalam dosa, namun taat mutlak kepada Allah, kepada segala perintah dan kehendak-Nya (Flp. 2:8; Ibr. 5:7- 9). Terdidik dalam iman juga berarti hidupnya menjadi berkat untuk orang lain (Yoh. 4:34), tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi hidup yang bertujuan untuk memuliakan Tuhan. Terdidik dalam iman juga berarti memiliki kepekaan terhadap Roh Kudus (Rm. 12:2; Mat. 5:8). Dalam Matius 5:8, kata melihat dalam teks aslinya tidak menggunakan kata “blepo atau theoreo” yang artinya melihat dengan mata, tetapi “horao” yang artinya melihat dengan hati. Ini menunjukkan pribadi yang peka dengan Tuhan, yang dapat membedakan antara suara dunia atau iblis, suara diri sendiri dan suara Tuhan. Kepekaan pelayan Kristus mencerminkan keintiman hubungannya dengan Roh Kudus. Pelayan yang peka terhadap Roh Kudus akan bertahan di dalam pembentukannya menjadi pelayan terdidik. Pelayan yang peka terhadap Roh Kudus senantiasa bersedia dikoreksi oleh Tuhan, hatinya tulus dan jujur, dan memiliki manusia batiniah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Pelayan Kristus yang Terdidik dalam Ajaran Sehat
Pelayan Kristus yang terdidik dalam ajaran sehat memiliki komitmen kepada Tuhan, kepada organisasi dan pekerjaan. Ia juga memiliki integritas diri. Pelayan Kristus yang terdidik dalam ajaran sehat memiliki disiplin, motivasi, semangat hidup, kerja sama, orientasi proses & hasil, sikap positif, kreatif, inovatif, sinergetik, energetik, ketahanan, dan konsistensi. Ia juga memiliki kemauan, kerja keras untuk bekerja, punya kesetiaan dan ketekunan kerja.

Pengetahuan & keahlian Pelayan Kristus yang Terdidik
Terdidik erat kaitannya dengan pengetahuan. Oleh sebab itu pelayan Kristus yang terdidik pasti mempunyai pengetahuan yang luas, mampu berpikir proaktif dan sinergetik, mampu berpikir sistematis dan lengkap, sehingga dapat membuat rencana & strategi. Ia juga mampu berpikir cermat dan tepat, sehingga dapat membuat perkiraan & keputusan yang baik. Terdidik juga berkaitan erat dengan keahlian. Karena itu pelayan Kristus yang terdidik memiliki ketrampilan atau keahlian praktis yang berkaitan dengan pekerjaannya, dan memiliki kecakapan sosial, mampu membangun hubungan baik antar manusia yang dilaksanakan dengan benar dan baik.

Empat Dimensi pelayan Kristus yang terdidik
Seorang pelayan Kristus yang terdidik atau tidak, dapat diukur dari 4 dimensi, yaitu: HEART (hati); HEAD (kepala/pikiran); HAND (tangan); HABIT (kebiasaan). Pertama, HEART (hati), merupakan karakter pelayan Kristus, sebab ketika Yesus berbicara tentang hati, Ia mengacu pada titik pusat sifat kerohanian dan nurani (diri anda – jati diri anda). Hati, bicara mengenai mengapa anda melayani, apakah benar melayani atau untuk dilayani? Jika hati anda salah, anda akan segera kehilangan arah dalam perjalanan pelayanan anda.
Hati atau karakter pelayan Kristus yang terdidik dalam iman dan ajaran sehat sangat jelas jika dibandingkan dengan yang tidak terdidik. Pelayan Kristus yang terdidik hanya meninggikan Tuhan: Tuhanlah obyek penyembahannya, sumber rasa amannya, Tuhanlah harga dirinya, Tuhanlah pemirsa yang maha mengetahui keputusan-keputusan hidupnya. Tetapi pelayan Kristus yang tidak terdidik akan mengesampingkan Tuhan: menyembah materi atau diri sendiri, sumber rasa aman dan sumber harga dirinya adalah perkara jasmani. Pelayan Kristus yang terdidik berkarakter rendah hati: tidak meninggikan diri, memuji pihak lain dan bukan diri sendiri, mempunyai perspektif Ilahi mengenai sebab-akibat. Tetapi pelayan yang tidak terdidik bersikap congkak: pongah, terlalu tinggi menilai diri sendiri, membual tentang diri sendiri, sok berjasa, sok pamer, menguasai pembicaraan, dan ingin jadi pusat perhatian. Pelayan Kristus yang terdidik berserah pada sifat dan kebaikan tujuan Allah, rencana dan proses Allah, mempunyai transparansi dan keefektifan, terus berjalan dalam iman selangkah demi selangkah. Tetapi pelayan yang tidak terdidik bersikap sua protektif: berlindung di balik jabatan, menyembunyikan informasi, mengintimidasi, menguasai kendali, menghalangi umpan balik yang jujur, selalu membandingkan diri dengan orang lain dan tak pernah bahagia, memutarbalikkan fakta dan kebenaran.
Kedua, yaitu HEAD (kepala/pikiran), ini menyangkut bagaimana pola pikir anda sebagai pelayan Kristus, apakah sesuai dengan pikiran Kristus, apakah jelas, terarah, dan efektif? Pikiran pelayan Kristus yang terdidik meneladani pikiran dan perasaan Kristus. Inilah kepemimpinan hamba yang terus-menerus Yesus ajarkan kepada para murid. Kepemimpinan hamba ini mempunyai arah yang jelas dan penerapan efektif sehingga mencapai sasaran. Seperti Yesus, maka pelayan Kristus yang terdidik tidak akan menganggap hal-hal yang ada padanya sebagai milik yang harus dipertahankannya, tetapi ia akan mengosongkan dirinya, merendahkan diri dan taat sampai mati, demi menjangkau dunia, melayani yang terhilang, menghibur yang terluka, memberi, berbagi, mengasihi tanpa syarat, tekun mengerjakan misi Allah untuk menyelamatkan manusia berapa-pun harganya (Flp. 2:5-7).
Ketiga, HAND (tangan), bicara mengenai metode-metode, cara-cara, atau ketrampilan sebagai seorang pemimpin yang berhati hamba. Yesaya 49:1-6 berbicara tentang hamba Tuhan yang diumpamakan sebagai “anak panah” yang menjadi alat untuk menggenapi tujuan Allah. Hamba Tuhan atau anak panah ini artinya Yesus Sang Mesias, juga bisa diartikan bangsa Israel, serta gereja dan pribadi orang percaya. Anak panah terdiri dari 3 bagian: EKOR, BATANG PANAH, dan KEPALA PANAH. Kepala Panah yaitu melambangkan ketrampilan pelayanan. Kepala panah yang baik ialah yang berbentuk runcing dan tajam agar dapat mengenai sasaran. Begitulah seorang pelayan yang terdidik harus mempunyai ketrampilan yang baik yang dapat mendukung tugasnya dalam melaksanakan misi Allah. Pelayan yang tidak terampil ibarat anak panah yang tumpul, ia akan melesat namun akhirnya tergeletak jatuh karena tidak bisa menancap pada sasaran. Kalau kepala panah melambangkan ketrampilan, maka batang panah melambangkan karakter. Batang panah yang baik ialah berbentuk lurus agar dapat melesat sempurna. Begitulah pelayan yang terdidik harus mempunyai karakter yang lurus seperti Kristus. Pelayan yang tidak memiliki karakter Kristus ibarat batang panah yang bengkok, tidak bisa dipakai memanah, tidak berguna, sebab tidak akan mengenai sasaran, dan bahkan dapat menghalangi orang yang belum percaya datang kepada Kristus dan menyebabkan masalah-masalah dengan orang percaya yang lainnya.
Keempat, HABIT (kebiasaan), bicara mengenai pola perilaku anda setiap hari sebagai pelayan Kristus, mampu mendisiplin diri sendiri setiap hari, dan menundukkan diri pada pimpinan Roh Kudus. Kedisiplinan Tuhan Yesus setiap hari yang membuat Dia tetap berfokus terhadap misi-Nya. Ekor panah adalah bagian yang mengendalikan laju panah. Ekor panah melambangkan kebiasaan pelayan Kristus yang mendisiplin diri, menundukkan diri pada kendali Roh Kudus. Pelayan yang tidak mendisiplin diri sendiri untuk selalu tunduk pada kendali Roh Kudus, tapi mengikuti kemauannya sendiri, ibarat ekor panah yang kusut dan rusak sehingga tak bisa dipakai, tak berguna.
Anak panah ideal ialah yang berujung tajam, batang lurus, dan ekor mantap. Inilah pelayan Kristus yang terdidik, orang-orang dengan ketrampilan pelayanan yang dikembangkan dengan baik, memiliki karakter ilahi, dan dipimpin oleh Roh Kudus. Mari menjadi pelayan Kristus yang terdidik dalam iman dan ajaran sehat, agar kita seperti anak panah yang ideal, terasah, dan dipakai oleh-Nya.

---


Materi ini disampaikan oleh Dr. Bambang Sriyanto, salah satu dosen S-2 di STA Jember, pada acara seminar dalam lingkup Pendeta GPdI se-Jatim

Penyunting: Edy Siswoko, M.Pd.K.
---


TEGUHKAN PANGGILAN DAN PILIHAN


Pada Tahun Akademik 2018/2019 ini, sebanyak delapan puluh delapan (88) mahasiswa S-1 kembali tinggal di asrama STA Jember untuk mengikuti pendidikan Prodi Sarjana Teologi dan PAK. Tak hanya berasal dari Jawa, mereka juga berasal dari pelbagai penjuru wilayah Indonesia seperti: NTT, Sulawesi, Sumatra, dan Papua, yang terpanggil untuk menjadi pekerja Tuhan yang terdidik dan terampil.








Para pelayan ibadah kampus Februari s.d. April 2019
Di bawah binaan 12 dosen dan tenaga kependidikan, panggilan mereka semakin hari semakin diteguhkan melalui proses pembelajaran dan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, salah satunya melalui ibadah kampus yang tiap bulan diadakan oleh senat mahasiswa.